Bulatan Times — Sejumlah tanaman kerap dipromosikan sebagai “obat alami” untuk diabetes. Namun, tanaman atau suplemen herbal tidak boleh menggantikan pemeriksaan gula darah, pola makan yang disusun sesuai kebutuhan, aktivitas fisik, insulin, maupun obat yang diresepkan tenaga medis.
National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) menyatakan belum ada bukti andal bahwa suplemen herbal dapat mengendalikan diabetes atau komplikasinya. Beberapa bahan memang telah diteliti, tetapi hasilnya masih terbatas, tidak konsisten, atau berasal dari penelitian kecil.
Tanaman yang Sering Diteliti untuk Diabetes
Daftar berikut menjelaskan posisi bukti secara hati-hati. Istilah “diteliti” tidak berarti suatu bahan telah terbukti aman atau efektif sebagai terapi diabetes.
1. Pare

Pare pernah diteliti karena mengandung beberapa senyawa aktif. Meski demikian, bukti pada manusia belum cukup untuk menjadikannya pengganti obat diabetes. Mengonsumsi pare atau ekstraknya bersama obat penurun gula darah juga dapat meningkatkan risiko gula darah terlalu rendah pada sebagian orang.
2. Kayu Manis

Sejumlah penelitian mengenai kayu manis menunjukkan hasil yang berbeda-beda. NCCIH menilai belum ada kesimpulan yang cukup kuat untuk merekomendasikan suplemen kayu manis sebagai pengobatan diabetes. Kayu manis jenis cassia juga mengandung kumarin, sehingga penggunaan dalam jumlah besar perlu dihindari terutama oleh orang dengan gangguan hati.
3. Lidah Buaya

Lidah buaya oral pernah diteliti terhadap kadar gula darah, tetapi hasilnya belum cukup untuk membuktikan manfaat klinis. Bagian lateks berwarna kekuningan bersifat pencahar dan produk lidah buaya dapat berinteraksi dengan obat tertentu. Karena itu, jangan meminum gel mentah atau ekstrak pekat tanpa arahan tenaga kesehatan.
4. Jintan Hitam

Jintan hitam telah dipelajari dalam sejumlah penelitian kecil. Temuan awal tersebut belum menetapkan dosis, efektivitas jangka panjang, atau keamanan yang memadai untuk terapi diabetes. Produk ekstrak juga dapat memiliki konsentrasi yang berbeda dari bahan yang digunakan sebagai bumbu.
5. Kumis Kucing

Kumis kucing digunakan dalam pengobatan tradisional, tetapi bukti klinis berkualitas tinggi untuk mengendalikan diabetes masih terbatas. Rebusan herbal tidak memiliki dosis baku dan tidak dapat dianggap setara dengan obat yang telah diuji keamanan serta efektivitasnya.
6. Brotowali

Brotowali juga sering disebut dalam pengobatan tradisional. Penelitian laboratorium atau pada hewan tidak otomatis membuktikan manfaat pada manusia. Sampai tersedia bukti klinis yang lebih kuat, brotowali tidak boleh digunakan untuk mengganti terapi diabetes.
7. Mengkudu

Mengkudu mengandung berbagai senyawa tumbuhan, tetapi klaim bahwa jus mengkudu dapat memperbaiki pankreas atau mencegah komplikasi diabetes belum didukung bukti klinis yang memadai. Orang dengan penyakit ginjal, hati, atau yang menggunakan obat rutin perlu berkonsultasi sebelum memakai produk herbal pekat.
8. Daun Sirsak

Penelitian awal terhadap ekstrak daun sirsak belum membuktikan bahwa rebusan daun sirsak aman dan efektif untuk penderita diabetes. Klaim mekanisme kerja dari penelitian laboratorium tidak dapat langsung diterapkan sebagai saran pengobatan pada manusia.
Siapa yang Perlu Berhati-hati?
- Orang yang menggunakan insulin atau obat penurun gula darah, karena kombinasi dengan herbal dapat mengubah kadar gula darah.
- Ibu hamil atau menyusui, anak-anak, serta orang dengan penyakit ginjal atau hati.
- Pasien yang akan menjalani operasi atau menggunakan beberapa jenis obat sekaligus.
Selalu sampaikan seluruh obat, jamu, dan suplemen yang digunakan kepada dokter atau apoteker. Hentikan penggunaan dan cari pertolongan medis bila muncul reaksi berat atau gejala gula darah terlalu rendah.
Catatan: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis, pemeriksaan, atau terapi dari dokter maupun tenaga kesehatan.








